Kesendirian Brenda Dan Imajinasinya Dalam Cerpen Brenda Yang Sunyi Karya Geys .T. Kaf

A.   PENDAHULUAN   
Cerpen  Brenda Yang Sunyi karya Geys .T.Kaf bercerita tentang seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dari  kedua orang tuanya.Cerpen tersebut sangatlah menarik  untuk dibaca oleh  semua kalangan. Ceritanya yang begitu akrab dengan kehidupan dunia anak yang membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya dan belaian manja dari kedua orang tua si tokoh. Cerita tersebut juga diwarnai oleh keceriaan anak-anak sebaya lain di tempat tinggal tokoh yang selalu mengusik kehidupan si tokoh yang bernama Brenda. Brenda yang selalu mengalami kesunyian dalam kehidupan anak-anak yang seharusnya ceria, berteriak manja,  membuat saya ingin mengulas dan menganalisis cerpen yang dimuat dalam Koran Republika pada tahun sebelum orde  baru tersebut.
Dalam cerpen yang berjudul “Brenda yang Sunyi” ini ada hal yang menarik untuk kita cermati. Hal tersebut akan kita bahas dalam bab pembahasan di bawah ini :

B.   PEMBAHASAN
            Kesunyian diri dan dunia khayal Brenda menjelaskan betapa mirisnya kehidupan Brenda yang selalu sunyi di dalam kehidupan anak-anaknya yang seharusnya mengalami banyak keindahan dan keceriaan. Gelak tawa yang tak pernah dirasakan seperti anak-anak yang lain membuat hari-harinya begitu membosankan. Sunyi yang dirasakan oleh Brenda adalah sunyi dari belaian manja sang bunda dan dongeng tentang si kancil dari mulut ayahandanya. Kesunyian membawanya ke dalam dunia khayal tentang si ‘Topi Jerami” yang dianggap sebagai teman ngobrol selama ia menjalani hari-hari kecilnya. Bagaimanakah kehidupan Brenda selanjutnya? Apakah pendekatan yang mendukung dalam ulasan cerpen “ Brenda Yang Sunyi”?
            Dalam mengulas cerpen berjudul “ Brenda Yang Sunyi “ saya menggunakan  beberapa pendekatan dalam mengkaji cerpen tersebut. Yang pertama adalah pendekatan sosiologi  sastra. Pendekatan sosiologi sastra adalah pendekatan mimetik yang dalam mengkaji karya sastra berupaya memahami karya sastra dalam hubungannya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatan. Cerita dalam cerpen “ Brenda Yang Sunyi” pendekatan sosiologi sastra sangat kentara terlihat, dimana seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang belum pernah si tokoh rasakan selama ia menjalani hari-hari kecilnya. Dalam realitas yang ada dalam masyarakat, para orang tua cenderung mengabaikan kewajibannya dan justru asyik bergelut dalam dunia kerja mencari harta yang berlimpah dan melupakan kodratnya. Pada kenyatannya harta membutakan segalanya.
Yang kedua, saya mencoba mempergunakan pendekatan psikologi sastra. Menurut Wellek dan Warren pendekatan psikologi sastra sebagai studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra. Dalam hal ini, Wellek dan Warren mencontohkan bagaimana karakter tokoh-tokoh yang ada dalam cerita. Brenda yang diceritakan dalam cerpen “ Brenda Yang Sunyi’ memiliki karakter yang tertutup tidak seperti teman-teman sebayanya yang terbuka dan ceria. Ketertutupannya pada dunia anak-anak lain disebabkan karena ia merasa dirinya tidak bisa mendapatkan perhatian seperti yang didapatkan anak-anak lain sebaya dari para orang tua mereka. Sungguh merupakan hal yang sangat tragis dalam dunia anak-anak.
Pendekatan pragmatik juga sangat terlihat dalam cerpen yang diterbitkan dalam masa menuju orde baru rezim Soeharto tersebut. Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu pada pembaca. Dalam hal ini, tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama, maupun tujuan yang lain. Cerpen “ Brenda Yang Sunyi” berisikan pesan kepada para orang tua bahwa anak sangat membutuhkan perhatian dari kedua orang tuanya. Kasih sayang dan perhatian adalah segalanya, dengan begitu anak akan merasakan kebahagiaan yang mendalam dan anak akan mengalami keceriaan dihari-hari kecilnya.
Cerpen “ Brenda Yang Sunyi’ bercerita tentang gadis kecil bernama Brenda yang dalam keseharian hidupnya selalu mengalami kesunyian. Pada dasarnya, Brenda ingin seperti anak-anak lain, bersenda gurau dan bermain-main di tengah hiruk pikuk orang kampung di desanya. Kebencian selalu menyelimuti dalam hati kecil Brenda kepada kedua orang tuanya yang membuat dirinya seperti sekarang. Kedua orang tuanya yang sibuk bekerja di perusahaan membuat Brenda dititipkan di tempat kakek neneknya.  Di rumah nenek, Brenda selalu merasa dirinya sebagai gadis kecil yang periang dan bahagia. Perhatian selalu tercurah dari nenek untuk Brenda. Ternyata Tuhan berkehendak lain, Kakek neneknya akhirnya harus meninggalkan Brenda untuk selama-lamanya.
Kembali Brenda harus berangkat ke rumahnya yang sepi. Kedua orang tuanya yang sibuk mencari uang tak sekalipun menghiraukan keadaan Brenda yang semakin kehilangan jati dirinya. Tumbuhlah Brenda menjadi seorang gadis kecil yang tertutup dan hobi mengunci diri dalam kamar. Sesekali ia menengok di luar kamar untuk melihat larian anak-anak kecil di kampungnya. Hanya mengintip dari balik jendela dan tidak berani untuk mengeluarkan kepalanya dari jendela. Keinginan Brenda yang begitu besar akan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya membuat ia semakin  menumbuhkan rasa benci kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tua Brenda seakan tidak peduli dengan apa yang dilakukan Brenda dalam kesehariannya. Kesilauan terhadap harta membuat hari-hari mereka selalu diselimuti akan kesibukan.
Brenda rindu akan belaian kasih dari kakek neneknya. Brenda akan selalu berharap kasih sayang dari kedua orang tuanya, meskipun dirundung kebencian yang mendalam terhadap kedua orang tuanya. Hari-hari Brenda kembali berwarna setelah kehadiran teman khayalan Brenda si “ Topi Jerami” yang selalu menemani Brenda kala ia dirundung rasa benci. Topi jerami selalu mengerti akan keluh kesah Brenda. Dalam kegundahan dirinya, ia selalu bercerita terhadap topi jerami. Hari yang indah, begitulah keinginan Brenda saat itu. Dalam kamarnya yang kecil, Brenda bermain-main dengan topi jerami yang selalu menggantung di samping jendelanya.
Kehidupan Brenda kembali dirundung sepi setelah bundanya mengabarkan bahwa ayahanda telah pergi untuk selamanya. Setelah sekian lama Brenda mendambakan belaian kasih sayang dari orang tuanya, akhirnya ia mendapati dirinya menjadi seorang yatim tanpa terlebih dulu mendapat kasih sayang dari ayahnya. Kembali hidup Brenda dirundung sepi. Kesepian dan kesunyian akan kasih sayang dan jabat tangan sahabat. Brenda selalu mendapat cacian dari orang-orang kampung karena hobinya mengurung diri dalam kamar. Tetapi Brenda tak peduli, dia masih mempunyai si Topi jerami yang setia menemaninya. Brenda menghabiskan hari-harinya dalam kamar bersama topi jerami.
Menuju hari tuanya ia bersama topi jerami menembus dunia khayal mereka. Topi jerami yang telah bosan dengan obrolan Brenda akhirnyapun meninggalkan Brenda dalam kesunyian. Brenda terus mencari kemana perginya topi jerami. Berhari-hari ia menapakan kakinya di aspal panas untuk mencari topi jerami sahabat kecilnya. Topi Jerami tak kunjung terlihat. Brenda terus mencari, ke sungai, jalanan, bawah jembatan, bahkan dalam tong sampah. “Nek Brenda Gila”, itulah sebutan anak kecil setiap kali melihat Brenda yang kusut dan tak terawat lewat depan rumahnya. Sungguh ironis kisah Brenda dalam mencari si Topi Jerami.

C. KESIMPULAN
Cerpen tersebut banyak memberi manfaat bagi kita, betapa penting arti sebuah kasih sayang dari orang tua. Harta tidak menjadi jaminan seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di kehidupannya. Bagi para orang tua yang membaca cerpen ini, tentu akan sadar bahwa anak adalah anugerah  besar dari Yang Maha Kuasa yang harus dijaga dan diberi kasih sayang seutuhnya

Comments :

0 komentar to “Kesendirian Brenda Dan Imajinasinya Dalam Cerpen Brenda Yang Sunyi Karya Geys .T. Kaf”

Poskan Komentar

Daily Categories