Dakwah Islam dan gerakan-gerakan dakwah di Indonesia

1.Pendahuluan
Sangat penting mempelajari sejarah dakwah Islam di Indonesia. Sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur’an ayat 111 bahwa mempelajari sejarah terdapat ibrah (pelajaran). Dengan mempelajari sejarah di masa lampau, kita dapat mengambil pelajaran untuk di masa yang akan datang dibuat perencanaan atau konsep yang lebih baik khususnya untuk dakwah di tanah air kita, Indonesia. Sesuai dengan hadist Rasulullah “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini “.
2.Sejarah masuknya agama Islam ke Indonesia (Nusantara)
Sejarah masuknya Islam di Indonesia melalui babak – babak yang penting:
1. Babak pertama, abad 7 masehi (abad 1 hijriah).
Pada abad 7 masehi, Islam sudah sampai ke Nusantara. Para Dai yang datang ke Indonesia berasal dari jazirah Arab yang sudah beradaptasi dengan bangsa India yakni bangsa Gujarat dan ada juga yang telah beradaptasi dengan bangsa Cina, dari berbagai arah yakni dari jalur sutera (jalur perdagangan) dakwah mulai merambah di pesisir-pesisir Nusantara. Sejak awal Islam tidak pernah membeda-bedakan fungsi seseorang untuk berperan sebagai dai (juru dakwah)
2. Babak kedua, abad 13 masehi.
Di abad 13 Masehi berdirilah kerajaan-kerajaan Islam diberbagai penjuru di Nusantara. Yang merupakan moment kebangkitan kekuatan politik umat khususnya didaerah Jawa ketika kerajaan Majapahit berangsur-angsur turun kewibawaannya karena konflik internal. Hal ini dimanfaatkan oleh Sunan Kalijaga yang membina di wilayah tersebut bersama Raden Fatah yang merupaka keturunan raja-raja Majapahit untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa yaitu kerajaan Demak. Bersamaan dengan itu mulai bermunculan pula kerajaan-kerajaan Islam yang lainnya, walaupun masih bersifat lokal.
Pada abad 13 Masehi ada fenoma yang disebut dengan Wali Songo yaitu ulama-ulama yang menyebarkan dakwah di Indonesia. Wali Songo mengembangkan dakwah atau melakukan proses Islamisasinya melalui saluran-saluran:
  • a) Perdagangan
  • b) Pernikahan
  • c) Pendidikan (pesantren)
3. Babak ketiga, masa penjajahan Belanda.
Pada abad 17 masehi tepatnya tahun 1601 datanglah kerajaan Hindia Belanda kedaerah Nusantara yang awalnya hanya berdagang tetapi akhirnya menjajah. Belanda datang ke Indonesia dengan kamar dagangnya yakni VOC, semejak itu hampir seluruh wilayah nusantara dijajah oleh Hindia Belanda kecuali Aceh. Saat itu antar kerajaan-kerajaan Islam di nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong.
4. Babak keempat, abad 20 masehi
Awal abad 20 masehi, penjajah Belanda mulai melakukan politik etik atau politik balas budi yang sebenarnya adalah hanya membuat lapisan masyarakat yang dapat membantu mereka dalam pemerintahannya di Indonesia. Politik balas budi memberikan pendidikan dan pekerjaan kepada bangsa Indonesia khususnya umat Islam tetapi sebenarnya tujuannya untuk mensosialkan ilmu-ilmu barat yang jauh dari Al-Qur’an dan hadist dan akan dijadikannya boneka-boneka penjajah. Selain itu juga mempersiapkan untuk lapisan birokrasi yang tidak mungkin pegang oleh lagi oleh orang-orang Belanda. Yang mendapat pendidikanpun tidak seluruh masyarakat melainkan hanya golongan Priyayi (bangsawan), karena itu yang pemimpin-¬pemimpin pergerakan adalah berasalkan dari golongan bangsawan.
Babak kelima, abad 20 & 21.
Pada babak ini sebenarnya kalau saja Indonesia tidak terjajah maka proses Islamisasi di Indonesia akan berlangsung dengan damai karena bersifat kultural dan membangun kekuatan secara struktural. Hal ini karena awalnya masuknya Islam yang secara manusiawi, dapat membangun martabat masyarakat yang sebagian besar kaum sudra (kelompok struktur masyarakat terendah pada masa kerajaan) dan membangun ekonomi masyarakat. Sejarah membuktikan bahwa kota-kota pelabuhan (pusat perdagangan) yang merupakan kota-kota yang perekonomiannya berkembang baik adalah kota-kota muslim. Dengan kata lain Islam di Indonesia bila tidak terjadi penjajahan akan merupakan wilayah Islam yang terbesar dan terkuat. Walaupun demikian Allah mentakdirkan di Indonesia merupakan jumlah peduduk muslim terbesar di dunia, tetapi masih menjadi tanda tanya besar apakah kualitasnya sebanding dengan kuantitasnya
C.Perkembangan dakwah Islam di Indonesia
Di kawasan Asia Tenggara dewasa ini di mana berbagai kekuatan giat untuk menggunting dan berusaha melemahkan Islam maka Dakwah Islamiyah dituntut untuk memiliki kesadaran dan pemahaman yg jernih dan utuh terhadap berbagai upaya dan rencana yg diletakkan oleh berbagai kekuatan yg ingin menjegal penyebaran Islam. Di Indonesia sebagai contoh gerakan Dakwah Islam telah gencar dimulai sejak dekade tigapuluhan pada abad duapuluh atas inisiatif dan usaha sebagian aktivis Islam dan para reformis muslim pada saat itu. Di Asia Tenggara dakwah tauhid ini menyebar melalui kaum muslimin dari kawasan itu yg datang berhaji ke dua tempat suci Mekkah dan Madinah. Mereka kemudian sadar akan pentingnya bagi ummat Islam agar kembali kepada keberagamaan secara benar dgn berpegang teguh kepada Sunnah Nabi SAW. Sesudah para hujjaj itu kembali ke negeri mereka masing-masing mereka telah mendapatkan bekal pemahaman yg benar tentang Islam yg di kemudian hari sangat membantu mereka utk bergiat dalam penyebaran Aktivitas Dakwah di kawasan Asia Tengara. Lahirlah Organisasi Islam Al-Irsyad yg dipelopori oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad Surkati sebagai salah satu dari organisasi-organisasi Islam terkemuka yg memiliki planning dan sasaran-sasaran yg ditetapkan setelah melalui riset di lapangan dan bekerja atas dasar manhaj yg jelas dgn merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan begitu Al-Irsyad telah membangun eksistensinya di tengah medan Aktivitas Islam di kawasan Asia Tenggara melalui proyek-proyek besar yg sudah mereka canangkan di sektor-sektor pendidikan budaya pelayanan sosial dan kesehatan. Berdirilah pula organisasi Muhammadiyah pada tahun 1912 M. yg dipelopori oleh KH. Ahmad Dahlan yg bergerak di bidang pendidikan sosial dan ekonomi. Kemudian lahir oraganisasi Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 M. didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari yg bergerak di bidang pendidikan ekonomi dan sosial kemasyarakatan. Dan organisasi AL-Khairot yg didirikan oleh orang-orang keturunan arab dari kaum Alawiyyin di Sulawesi kemudian didukung oleh orang-orang Indonesia yg menaruh simpati kepada mereka. Berdiri pula Jam’iyah Al-Wasliyah sebagai salah satu organisasi Islam yg memiliki banyak anggota. Dan Organisasi PERSIS yg memproklamirkan diri sebagai Jam’iyah Salafiyah yg punya perhatian khusus dalam mempelajari kitab-kitab yg ditulis oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahab dan kitab-kitab Salafiyah lainnya.
D. Gerakan-gerakan dakwah Islam di Indonesia
Gerakan-gerakan kaum revivalis di Indonesia bukan hasil kreasi lokal yang berakar dari budaya Indonesia, tapi berasal dari proses transmisi dari Timur Tengah ke Indonesia, atau yang kini dikenal sebagai gerakan transnasional.
Pertama, Gerakan Tarbiyah. Gerakan ini terinspirasi dari kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir, yang dibidani Hasan al-Banna dan Sayid Qutb. Embrio awal transmisi gerakan ini nampak melalui dua jalur.
(a)    Melalui para aktivis gerakan dakwah kampus di masjid Salman ITB. Program utama gerakan ini adalah Latihan Mujahid Dakwah (LMD), yang dimotori oleh Imaduddin Abdurrahim (Sekjen International Islamic Federation of Student Organization).
(b)    Melalui kegiatan ini, mereka dikenalkan dengan pemikiran tokoh-tokoh IM.
Metode dakwah yang diterapkan, mengacu pada Hizbut Tahrir. Melalui tiga tahapan, yaitu tahap pembinaan dan pengkaderan (marhalah tasqif), tahap interaksi dengan masyarakat (marhalah tafa?ul ma?a al-ummah), dan tahap pengambilalihan kekuasaan (marhalah istilam al-hukm). Namun, saat ini HTI baru mampu menjalankan tahap kedua (marhalah tafa?ul ma?a al-ummah), belum sampai pada pengambilalihan kekuasaan. Berbeda dengan Gerakan Tarbiyah, HTI masih yakin, khilafah islamiyah merupakan bentuk pemerintahan yang terbaik.
Ketiga, Dakwah Salafi. Gerakan ini sejak awal dimotori oleh alumnus kampus LIPIA (Lembaga Ilmu Islam dan Bahasa Arab).
Dalam perkembangannya, gerakan ini berbeda dengan dua model gerakan sebelumnya. Gerakan salafi lebih memilih jalur a-politis dan membuat friksi tersendiri dalam berdakwah. Dakwah yang mereka ajarkan adalah kepatuhan total kepada Nabi Muhammad dan as-salaf as-salih (sahabat Nabi, tabiin, tabiut-tabiin). Tokoh referensi utama gerakan ini adalah Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab.
pendapat mengenai klasifikasi gerakan dakwah Islam di Indonesia yang menyimpang dan sesat”Faktor Internal dari sudut pandang sosial, kecenderungan-kecenderungan penyimpangan tersebut bisa diakibatkan oleh gejala kapitalisme yang semakin merajalela. Kehidupan modern yang dilandasi oleh kapitalisme mengajarkan bahwa yang efektif dan efisien adalah instanitas, Pada masa sekarang pun muncul organisasi-oprganisasi yang jelas-jelas dibiayai oleh kaum kapitalis, mereka mempunyai misi menyebarkan faham SIPILIS (sekularisme, pluralisme dan Liberalisme). SIPILIS lebih banyak dikembangkan melalui media modern dibandingkan gerakan penyimpangan lainnya seperti Al-Qur’an suci yang face to face.
Tokoh-tokoh dakwah Islam di Indonesia
Sejak pertama kali Islam datang di Nusantara, Allah telah melahirkan tokoh-tokoh besar, para ulama, cendekiawan,
panglima perang, serta pemimpin yang berjasa bagi negeri ini. Mereka berjuang dengan segenap ilmu, tenaga dan
kemampuannya untuk kemajuan Islam dan kemaslahatan ummat. Disini akan disebutkan beberapa tokoh:


  • Para da'i pertama di Nusantara
  • Fathahillah (Fadhillah Khan Al-Pasai)
  • Nuruddin Ar-Raniri
  • Syaikh Yusuf MakassarPangeran Diponegoro

  • Teuku Umar
  • Syaikh Nawawi Al-Bantani
  • Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau
  • Syaikh Hasyim Asy'ari
  •  
  •  

  • Oemar Said Cokroaminoto
  •  
  • K.H. Ahmad Dahlan
  • K.H. A. Hassan
  • Buya HAMKA
  • Muhammad Natsir
  • Muhammad Amien Rais

Selanjutnya akan dijelaskan beberapa Tokoh yang berperan penting dalam dunia islam Indonesia seperti:
KH Ahmad Dahlan (1868-1923) merupakan tokoh pendiri Muhammadiyah. Ahmad Dahlan (bernama kecil Muhammad Darwisy), adalah pelopor dan bapak pembaharuan Islam. Kyai Haji kelahiran Yogyakarta, 1 Agustus 1868, inilah yang mendirikan organisasi Muhammadiyah pada 18 November 1912. Pahlawan Nasional Indonesia ini wafat pada usia 54 tahun di Yogyakarta, 23 Februari 1923.
KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di nusantara. Ia ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadits. Ia mendirikan Muhammadiyah bukan sebagai organisasi politik tetapi sebagai organisasi sosial kemasyarakatan dan keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan.
K.H. Hasyim Muzadi NU
Kyai kelahiran Tuban, 8 Agustus 1944, ini terpilih kembali untuk periode kedua (2004-2009) sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU). Mantan Calon Wakil Presiden berpasangan dengan Capres Megawati Soekarnoputri (PDI-P) ini berhasil mengungguli secara mutlak para pesaingnya, termasuk KH Abdurrahman Wahid.
Hasyim Muzadi memiliki pandangan, dunia internasional perlu mengetahui kondisi Islam di Indonesia dan perilaku mereka yang tidak menyetujui tindak kekerasan. Untuk itu perlu upaya komunikasi dengan dunia luar secara intensif. Tak terkecuali dengan AS. Makin banyak dan intens komunikasi maupun kontak ormas-ormas moderat Indonesia dengan internasional dan AS, itu makin positif. Apalagi, di tengah keterpurukan ekonomi, sosial, dan keamanan di Indonesia saat ini, kerja sama internasional jauh lebih berfaedah daripada keterasingan internasional.
KH Hasan Basri Mantan Ketua Umum MUI
Dia mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ulama kelahiran Muara Teweh, kota kecamatan sekitar 600 km sebelah utara Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada 20 Agustus 1920, itu adalah penggagas bank syariah di Indonesia yang ditandai dengan berdirinya Bank Muamalat Indonesia (BMI).


Analisa perkembangan dakwah di Indonesia
- kelemahan dan solusi  dakwah di Indonesia
Di Indonesia sebagai contoh gerakan Dakwah Islam telah gencar dimulai sejak dekade tigapuluhan pada abad duapuluh atas inisiatif dan usaha sebagian aktivis Islam dan para reformis muslim pada saat itu.
kondisi kaum muslimin di Indonesia masih lemah dan terbelakang di berbagai segi terutama kelemahan mereka di bidang akidah budaya sosial dan ekonomi. Peranan Ormas-Ormas Islam dalam Membendumg Gerakan Kristenisasi Alangkah baiknya kalau ormas-ormas Islam tersebut mensinergikan diri dan membuat strategi bersama memusatkan perhatian utk menghadapi gerakan kristenisasi. Hal itu tidak akan terjadi kecuali apabila ada itikad baik bersama utk bekerja sama dalam sebuah bingkai strategi tersebut dalam rangka membendung arus kristenisasi atau lbh dari itu dapat membawa orang-orang Nasrani masuk Islam. Bukan hal yg mustahil manakala seluruh ormas Islam bisa bersatu melalui planning dan strategi yg jitu dan dgn lambat tapi pasti menambah intensitas dakwah
- prospek ke depan dakwah Islam di Indonesia
Gerakan Dakwah Masa Depan khususnya di Indonesia harus waspada dan tidak boleh lalai terhadap ancaman tersebut, kendati Indonesia sekarang sedang dalam era keterbuakaan.Mereka pasti sadar betul bahwa era keterbukaan yan sedang dinikmati umat Islam Indonesia, pasti ibarat pisau bermata dua. Amerika akan mengambil langkah-langkah startegis dan mungkin ofensif untuk mengantisipasi perkembangan Gerakan Dakwah yang sudah terlanjur tumbuh dan berakar di masyarakat. Apalagi di Indonesi, Gerakan Dakwah sudah mulai memasuki dunia politik praktis yang pada akhirnya akan mempengaruhi sistem pemerintahan Indonesia dan politik luar negerinya.
Gerakan Dakwah Masa Depan dalam mengantisipasi ancaman tersebut tidak lain kecuali membangun soliditas organisai, konsolidasi sesama Gerakan Dakwah, dengan tokoh-tokoh Dakwah, membangun jaringan yang luas di masyarakat serta memilki lobi yang kuat di pemerintahan dengan membuktikan bahwa Gerakan Dakwah Masa Depan bukan ancaman bagi pemerintah negara-negara Muslim, melainkan mitra dan partner dalam membangun dan mengangkat dratjat dan martabat bangsa secara keseluruhan. Buktikan di masyarakat dan pemerintahan bahwa para aktivis Gerakan Dakwah Masa Depan adalah relawan-relawan yang tidak kenal pamrih dan menyerah demi untuk mewujudkan kebangkitan, kemajuan dan kemakmuran segenap masyarakat.
Upaya-upaya tersebut bukan berarti dapat memuskan semua kelompok masyarakat. Pasti ada saja kelompok msayarkat atau sebagian penguasa yang tidak mau memahami dan menerima kehadiran para relawan tersebut karena merasa keberadaan mereka terancam yang selama ini penuh dengan kecurangan dan kejahatan

Comments :

0 komentar to “Dakwah Islam dan gerakan-gerakan dakwah di Indonesia”

Poskan Komentar

Daily Categories