Mengembangbiakkan Fulus dari Beternak Sapi

Program pembinaan usaha dari pemerintah memang dirasakan perlu bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha. Begitulah yang dirasakan oleh masyarakat kelompok usaha ternak Desa Kijang Jaya SP 1 Kecamatan Tapung Hilir Buana, kab. Kampar yang mendapatkan bantuan modal sapi untuk dikembangbiakkan.
Program pembinaan usaha dari pemerintah memang dirasakan perlu bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha. Begitulah yang dirasakan oleh masyarakat kelompok usaha ternak Desa Kijang Jaya SP 1 Kecamatan Tapung Hilir Buana, kab. Kampar yang mendapatkan bantuan modal sapi untuk dikembangbiakkan.

Salah satunya Endang (49). Ayah tiga anak ini mengikuti program dari Pemerintah Kabupaten Kampar sejak 2007 lalu. “Awalnya, kami dimediasi oleh Bapak Suhada selaku PPL (Petugas Penyuluh Lapangan) wilayah Tapung Hilir. Alhamdulillah, kami sekelompok ada 10 orang dan mendapatkan 30 ekor sapi. Jadi masing-masing kami mendapat 3 ekor sapi,” jelasnya kepada riaubisnis.com di Tapung Hilir.

Namun, katanya, karena menggantikan salah seorang teman, ia pun mendapat jatah enam ekor sapi. Sebelum memilahara sapi, sambungnya, ia diberi pelatihan di Desa Labuhan Jaya selama satu minggu yang diadakan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Kampar “Kami dijelaskan tentang bagaimana cara pemeliharaan sapi yang baik agar cepat berkembang,” katanya lagi.

Setelah satu tahun, sapinya menghasilkan tiga ekor anak. Dua anak sapi dikembalikan kepada pemerintah, yakni Dinas Peternakan Kabupaten Kampar. “Tahun berikutnya, beranak lagi, dan sekarang sudah saya kembalikan ke enam sapi,” ujarnya.

Selain mengembalikan modal sapi ke pemerintah, dalam waktu tiga tahun itu juga, Endang berhasil menjual enam ekor sapi peliharaanya. Kini Sisanya lima ekor sapi yang terus ia kembangkan. “Dari ternak sapi ini, saya juga sudah bisa ikut korban saat Lebaran Haji kemarin. Karena ini juga motivasi awal saya memelihara sapi yakni ingin berkurban dengan sapi sendiri,” jelasnya.

Dilepas Dihutan

Pemeliharaan yang dilakukan Endang terbilang cukup unik, sapi tidak diaritkan (diberi makan rumput di kandang,red), melainkan dilepas di hutan lindung pingggiran Sungai Tapung. “Kadang, setiap dua hari sekali baru dilihat, dan Alhamdulillah tidak ada kekhawatiran akan hilang,” sebutnya. 

Memang, lanjutnya, diawal-awal, dibuatkan kandang namun belakangan mulai lepas. “Biar mereka mencari makan sediri. Sehingga sapi lebih mengerti dengan apa yang ia suka dan makan,” ujarnya.

Sapi kemudian siap potong, saat umurnya sudah mencapai dua tahun. “Beratnya sekitar 140 kilogram,” katanya.

Dulu Endang pernah  merasa tidak sanggup memelihara sapi-sapi tersebut. Akhirnya diserahkan kepada temannya. Namun hal itu malah menyebabkan anaknya sakit karena kehilangan sapi-sapi kesayangannya. "Kemudian, saya ambil kembali dan coba memelihara sendiri, semangat dan dorongan dari teman-teman membuat semangat saya timbul,’’ paparnya.

Sejauh ini, Endang tak menemukan kendala yang berarti. “Paling khawatirnya dia makan plastik bekas pupuk itu bisa sakit. Ada beberapa teman sekelompok yang kejadian, dan sapinya mati. Tapi sapi punya saya tidak pernah sakit. Dan Alhamdulillah karena punya enam, jadi saya juga yang paling banyak memproduksi,” pungkasnyai.(*)
Salah satunya Endang (49). Ayah tiga anak ini mengikuti program dari Pemerintah Kabupaten Kampar sejak 2007 lalu. “Awalnya, kami dimediasi oleh Bapak Suhada selaku PPL (Petugas Penyuluh Lapangan) wilayah Tapung Hilir. Alhamdulillah, kami sekelompok ada 10 orang dan mendapatkan 30 ekor sapi. Jadi masing-masing kami mendapat 3 ekor sapi,” jelasnya kepada riaubisnis.com di Tapung Hilir.

Namun, katanya, karena menggantikan salah seorang teman, ia pun mendapat jatah enam ekor sapi. Sebelum memilahara sapi, sambungnya, ia diberi pelatihan di Desa Labuhan Jaya selama satu minggu yang diadakan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Kampar “Kami dijelaskan tentang bagaimana cara pemeliharaan sapi yang baik agar cepat berkembang,” katanya lagi.

Setelah satu tahun, sapinya menghasilkan tiga ekor anak. Dua anak sapi dikembalikan kepada pemerintah, yakni Dinas Peternakan Kabupaten Kampar. “Tahun berikutnya, beranak lagi, dan sekarang sudah saya kembalikan ke enam sapi,” ujarnya.

Selain mengembalikan modal sapi ke pemerintah, dalam waktu tiga tahun itu juga, Endang berhasil menjual enam ekor sapi peliharaanya. Kini Sisanya lima ekor sapi yang terus ia kembangkan. “Dari ternak sapi ini, saya juga sudah bisa ikut korban saat Lebaran Haji kemarin. Karena ini juga motivasi awal saya memelihara sapi yakni ingin berkurban dengan sapi sendiri,” jelasnya.

Dilepas Dihutan

Pemeliharaan yang dilakukan Endang terbilang cukup unik, sapi tidak diaritkan (diberi makan rumput di kandang,red), melainkan dilepas di hutan lindung pingggiran Sungai Tapung. “Kadang, setiap dua hari sekali baru dilihat, dan Alhamdulillah tidak ada kekhawatiran akan hilang,” sebutnya. 

Memang, lanjutnya, diawal-awal, dibuatkan kandang namun belakangan mulai lepas. “Biar mereka mencari makan sediri. Sehingga sapi lebih mengerti dengan apa yang ia suka dan makan,” ujarnya.

Sapi kemudian siap potong, saat umurnya sudah mencapai dua tahun. “Beratnya sekitar 140 kilogram,” katanya.

Dulu Endang pernah  merasa tidak sanggup memelihara sapi-sapi tersebut. Akhirnya diserahkan kepada temannya. Namun hal itu malah menyebabkan anaknya sakit karena kehilangan sapi-sapi kesayangannya. "Kemudian, saya ambil kembali dan coba memelihara sendiri, semangat dan dorongan dari teman-teman membuat semangat saya timbul,’’ paparnya.

Sejauh ini, Endang tak menemukan kendala yang berarti. “Paling khawatirnya dia makan plastik bekas pupuk itu bisa sakit. Ada beberapa teman sekelompok yang kejadian, dan sapinya mati. Tapi sapi punya saya tidak pernah sakit. Dan Alhamdulillah karena punya enam, jadi saya juga yang paling banyak memproduksi,” pungkasnyai.(*)

Comments :

0 komentar to “Mengembangbiakkan Fulus dari Beternak Sapi”

Poskan Komentar

Daily Categories